Ignatius Kardinal Suharyo Kembali Ceritakan Sejarah Istiqlal dalam Podcast Ruang Bersama ICRP
BeritaPodcast Ruang Bersama (15/05) yang di selenggarakan ICRP dengan narasumber Dewan Kehormatan ICRP Ignatius Kardinal Suharyo, Tokoh Muslimah Reformis Indonesia Musdah Mulia yang juga Dewan Pendiri ICRP dan Tokoh Intelektual Muslim Ulil Abshar Abdalla yang juga Ketua 1 ICRP sreta Ketua PBNU, mengingatkan kembali sejarah berdirinya Istiqlal dan Katedral. Dalam tema diskusi Menjaga Damai di Tengah Keberagaman yang memotret pesan Paus Leo yang berkunjung ke negara AL Jazair.
Romo Kardinal mengungap cerita itu dengan penuh perhatian, bahwa dulu di jantung ibu kota, berdirinya Masjid Istiqlal bukan sekadar deretan beton dan kubah yang menjulang ke langit, melainkan sebuah prasasti hidup tentang jiwa bangsa yang merdeka. Melalui kacamata spiritualitas yang dalam, sejarah berdirinya Istiqlal adalah sebuah narasi epik tentang bagaimana cinta kasih dan toleransi mampu meruntuhkan keangkuhan kolonialisme.
Mari kita memutar waktu untuk meresapi kembali perbincangan sarat makna antara dua bapak bangsa, Bung Karno dan Bung Hatta. Kala itu, Bung Hatta dengan kebijaksanaan pragmatisnya mengusulkan agar masjid negara dibangun di kawasan Jalan Thamrin yang ramai penduduk, dengan harapan agar masjid tersebut senantiasa makmur, penuh, dan tidak menguras biaya besar untuk penggusuran. Namun, Bung Karno memiliki visi kenabian yang melampaui perhitungan matematis pada masanya. Beliau bersikeras agar Istiqlal—yang secara harfiah berarti “Merdeka”—didirikan di atas Taman Wilhelmina, tepat di atas puing-puing bekas benteng pertahanan penjajah Belanda.
Pemilihan lokasi ini bukanlah tanpa alasan yang megah. Bung Karno ingin mengirimkan pesan yang menggetarkan semesta: bahwa di atas sisa-sisa reruntuhan kolonialisme, tirani, dan penindasan, bangsa ini mendirikan rumah Tuhan yang menebarkan rahmat bagi semesta. Dan yang paling menyentuh kalbu adalah keputusannya yang sengaja meletakkan masjid raksasa ini tepat di seberang Gereja Katedral Katolik yang sudah lebih dulu berdiri megah sejak era kolonial.
Ignatius Kardinal Suharyo dengan sangat indah mengisahkan bahwa posisi berhadap-hadapan antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral bukanlah sebuah pose permusuhan layaknya orang yang sedang “pasang kuda-kuda”. Sebaliknya, mereka berhadap-hadapan untuk saling menatap dengan penuh kasih, saling menjaga, dan hidup berdampingan dengan damai sebagai tetangga yang tulus. Keharmonisan yang nyata antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Indonesia ini telah menjelma menjadi simbol idealisme bangsa yang abadi dalam merawat perdamaian serta keberagaman antarumat beragama.
Pemikiran yang menggugah ini turut diamini dan digarisbawahi oleh tokoh cendekiawan muslim seperti Prof. Dr. Musdah Mulia dan Ulil Abshar Abdalla. Mereka sepakat bahwa kedekatan fisik dua rumah ibadah ini adalah pengejawantahan dari dialog kehidupan yang paling nyata dan indah. Ketika suara azan yang syahdu dari menara Istiqlal berpadu di udara dengan dentang lonceng dari menara Katedral, sejatinya langit Indonesia sedang menyanyikan kidung persaudaraan universal yang melampaui batasan teologis.
Sejarah Istiqlal adalah sebuah panggilan menuju alam kesadaran spiritual yang tertinggi. Ia menyadarkan kita bahwa kemerdekaan yang sejati bukan sekadar lepas dari belenggu fisik penjajah, melainkan kemerdekaan jiwa untuk lepas dari belenggu kebencian, kecurigaan, dan permusuhan antar-sesama manusia. Mari kita resapi dengan kesadaran penuh semangat dari Istiqlal dan Katedral yang berdiri berdampingan. Keduanya mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah jurang pemisah untuk saling menjatuhkan, melainkan taman sari yang beraneka warna di bawah tatapan cinta Sang Maha Pencipta. Semoga narasi sejarah ini tidak sekadar menjadi kenangan di buku-buku lama, melainkan terus berdetak sebagai ruh yang membangkitkan perdamaian dan meruntuhkan segala bentuk “penjajahan” baru di muka bumi.

