Ilusi Perang yang Adil Sudah Tidak Ada, Para Tokoh Agama Menyampaikan Sudah Tidak Relevan di Abad Teknologi
Berita
Di tengah kemajuan peradaban dan teknologi, tangisan pilu dan kehancuran akibat perang masih terus menggema di berbagai belahan dunia. Dalam sebuah diskusi mendalam yang merefleksikan kunjungan bersejarah Paus ke Aljazair, sebuah kesadaran baru tentang tragedi perang modern mencuat dengan sangat kuat. Kunjungan Paus tersebut menjadi sebuah kritik dan seruan simbolis yang melampaui sekat-sekat agama, membawa pesan mendesak untuk menghentikan perang serta memulihkan trauma kemanusiaan di tengah krisis geopolitik global.
Konsep “perang yang adil” (just war) mungkin pernah diyakini pada abad-abad silam, ketika pertempuran di medan laga hanya menghadapkan prajurit militer dengan militer. Namun, pandangan ini dikritisi habis-habisan. Ignatius Kardinal Suharyo yang mewakili pandangan Katolik dan Prof. Dr. Musdah Mulia dari perspektif Islam, secara tegas menyepakati bahwa dengan kemajuan teknologi modern saat ini, konsep “perang yang adil” sudah sama sekali tidak relevan lagi.
Dari sudut pandang Katolik, Kardinal Suharyo membawa kita pada realitas yang menyayat hati. Dalam perang modern, mesin pembunuh digerakkan dari jarak yang sangat jauh. Perang kini didominasi oleh rudal dan drone (pesawat nirawak) yang buta. Mesin dan teknologi kecerdasan buatan tersebut tidak memiliki moral, tidak memiliki hati nurani, dan tidak memiliki agama. Secara tragis, Kardinal menceritakan bagaimana rudal-rudal mematikan tersebut mendarat sembarangan, bahkan meledakkan sekolah-sekolah yang di dalamnya masih terdapat murid-murid yang tidak berdosa. Warga sipil yang tak berdaya justru menjadi korban terbanyak. Hal ini membuktikan secara telak bahwa tidak ada keadilan, kehormatan, dan pembenaran apa pun dalam perang modern.
Selaras dengan hal itu, Prof. Dr. Musdah Mulia dari pandangan Islam menegaskan bahwa perang tidak akan pernah menyelesaikan masalah, melainkan selalu membawa kesengsaraan bagi peradaban dan kemanusiaan. Keberagamaan yang sejati, yang berakar pada bakti kepada Sang Pencipta, mutlak harus tercermin dalam akhlak mulia dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Ketika instrumen pencabut nyawa bekerja secara otomatis dan melukai masyarakat sipil, prinsip dasar penciptaan manusia telah dikhianati. Oleh karena itu, pendekatan preventif, dialog yang tulus, serta diplomasi berbasis kemanusiaan harus selalu dikedepankan sebagai satu-satunya jalan rasional dan bermoral.
Namun, menghentikan dentuman senjata saja tidaklah cukup. Upaya mewujudkan kedamaian harus dibangun di atas fondasi yang jujur. Menggemakan kembali pesan bijaksana dari mendiang K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), penting untuk disadari bahwa perdamaian yang berkelanjutan harus didasarkan pada prinsip keadilan. Berharap terciptanya perdamaian tanpa adanya penegakan keadilan hanyalah sebuah ilusi dan halusinasi semata. Selama penindasan, hak yang dirampas, dan arogansi militeristik masih dibiarkan, kedamaian di muka bumi tidak akan pernah terwujud.
Tulisan ini adalah sebuah seruan untuk membangunkan kesadaran nurani kita. Kita harus sadar betul, bahwa dalam setiap peperangan, siapa pun yang mengangkat senjata—pada akhirnya yang benar-benar dikalahkan dan dihancurkan adalah kemanusiaan itu sendiri. Sudah saatnya kita bangkit dan secara kolektif menggemakan gerakan untuk menghentikan perang. Mari kita gantikan amunisi dengan diplomasi, dan kebencian dengan dialog yang menghidupkan. Masa depan generasi anak-anak muda kita terlalu berharga untuk direnggut oleh rudal-rudal tanpa moral dan ilusi tentang “perang yang adil”.
Hal ini terungkap dalam Podcast Ruang Bersama yang di selenggarakan ICRP dengan host tokoh intelektual muslim Ulil Abshar Abdalla di Gedung ICRP Jalan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat. Seperti diketahui pasca acara tersebut para pemimpin majelis agama, keyakinan dan komunitas melaksanakan konferensi dalam memperkuat eksistensi ICRP di Indonesia.
