Memasuki Usia 26 Tahun, ICRP Perkuat Posisi dan Siapkan Gedung Pusat Interaksi Lintas Agama dan Keyakinan
Berita
JAKARTA PUSAT, 16 Mei 2026 — Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) kembali menegaskan posisinya sebagai lembaga dengan peran unik dan krusial di tengah berbagai isu lintas agama (interfaith), keyakinan (faith) dan kemanusiaan (humanity). Bertempat di Kantor ICRP, Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat, ICRP menggelar “Konferensi Tokoh Agama untuk Perdamaian” yang mempertemukan para pemimpin majelis agama, penghayat kepercayaan, dan perwakilan komunitas.
Pertemuan strategis ini menjadi momentum penting bagi ICRP yang kini menginjak usia 26 tahun. Dimiliki dan didirikan bersama oleh perwakilan agama dan keyakinan, ICRP terus menjadi titik perjumpaan dan ruang dialog tanpa sekat. Lembaga ini dengan bangga meneruskan warisan pemikiran dari para tokoh pluralis bangsa di awal berdirinya, seperti K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Djohan Effendi, Buya Syafi’i Maarif, Romo Kardinal Julius Darmaatmadja, Ibu Gedong Bagus Oka, Bapak Yewangoe dan Bapak TH. Sumartana.
Diskusi mendalam pada konferensi ini dipimpin langsung oleh Dewan Kehormatan ICRP, Bapak Kardinal Ignatius Suharyo. Turut hadir dalam pertemuan penting ini antara lain Ketua 1 ICRP Ulil Abshar Abdalla, Ketua 3 ICRP Chandra Setiawan, tokoh Muslimah Reformis Musdah Mulia, Sekretaris ICRP Erry Sutandi, Dewan Pendiri ICRP Michael Utama Purnama, dan Bendahara Umum Vincent Jaya Saputra. Hadir pula Direktur ICRP Ilma Sovri Yanti, Dewan Pembina ICRP Ibu Amanda Suharnoko dan Zafrullah Pontoh, serta Aryudi Prastowo dan Maulana Arif Afandi dari Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Suharsono (Warung Kerukunan Nusantara), Imdadun Rahmat (Baznas), Utusan Katolik untuk ICRP Romo Agustinus Heri Wibowo, Dewan Pengawas ICRP William Kwan, Henry Chan (Majelis Buddhayana Indonesia), Abdul Rahman dan Sri Hari (Komunitas Spiritual Eden), Warjo (Komunitas Sapto Darmo), dan Tokoh Anak Henny Hermanoe.
Dalam konferensi tersebut, ICRP merumuskan beberapa langkah maju yang konkret berdasarkan evaluasi perjalanan organisasi, yaitu:
- Persiapan Pembangunan Gedung dan Museum Digital, sebagai pusat interaksi dan ruang dialog antaragama dan keyakinan di Indonesia. Fasilitas ini akan dilengkapi dengan museum digital tokoh-tokoh pendiri pluralisme, memberikan fungsi simbolik sebagai wadah pertemuan sekaligus tempat belajar bagi generasi muda untuk memahami nilai keberagaman melampaui sekat agama.
- Pengembangan Dialog Karya, dalam rangka mendorong transformasi dari dialog yang bersifat teologis semata menuju aksi nyata di lapangan (dialog karya). Langkah ini akan diwujudkan melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat, bantuan kemanusiaan, serta pengembangan unit bisnis.
- Pendidikan Inklusif Berbasis Komunitas, yang menjadi sarana advokasi pendidikan sebagai fokus utama untuk menjangkau anak-anak dari kelompok minoritas yang kehilangan akses ke sekolah formal akibat kendala administratif maupun ekonomi. ICRP berupaya memfasilitasi solusi melalui rumah belajar dan pemberdayaan masyarakat agar hak pendidikan mereka terpenuhi.
- Perluasan Jangkauan Digital: Menghadapi dinamika sosial di akar rumput, ICRP mengembangkan strategi digital melalui platform media seperti ICRP TV dan podcast. Tujuannya adalah untuk memperluas audiens, menggalang kemitraan strategis, dan menyebarkan pesan perdamaian demi menjaga Indonesia sebagai benchmark kehidupan yang harmonis di tingkat global.
Melalui konferensi ini, para tokoh dan pemimpin majelis sepakat untuk terus bergotong royong memastikan kehadiran ICRP tidak hanya sebagai wadah silaturahmi para pemimpin, melainkan juga institusi yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Tentang ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace)
ICRP adalah organisasi berbasis lintas agama dan kepercayaan yang berdedikasi mempromosikan perdamaian, dialog, dan kemanusiaan di Indonesia. Berdiri sejak tahun 2000 oleh tokoh-tokoh lintas agama terkemuka, ICRP berkomitmen untuk membangun masyarakat madani yang demokratis, berkeadilan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia serta kebebasan beragama dan berkeyakinan. Saat ini ICRP di pimpin oleh Ketua Umum Bapak Prof. Dr. Abdul Muti, M.Ed yang juga Menteri Pendidikan, Dasar dan Menengah serta Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Adapun Dewan Pendiri ICRP terdiri dari Gus Dur KH Abdurrahman Wahid, Djohan Effendi, Sudhamek AWS, Budi Santoso Tanuwibowo, Chandra Setiawan, Gede Natih, J.N. Hariyanto, Michael Utama Purnama, Muhammad Najib, Musdah Mulia, Sylvana Maria Apituley.
Adapun Dewan Kehormatan terdiri dari AA. Yewangoe, Gandi Sulistiyanto Soeherman, Kardinal Ignatius Suharyo, P. Djatikusuma, Sinta Nuriyah Wahid
Adapun Dewan Pembina terdiri dari Gomar Gultom, Amanda D. Suharnoko, Arliyanus Larosa, Biksu Dharmavimala, Zafrullah Ahmad Pontoh
