Seruan Damai dari “Ruang Bersama” ICRP: Mengetuk Nurani Kaum Muda, Mengakhiri Ilusi Perang di Tengah Keberagaman
Berita Cendekiawan Muslim, Dialog Lintas Agama, ICRP TV, Ignatius Kardinal Suharyo, Indonesia, Indonesia Damai, Keberagaman, Keyakinan, Moderasi Beragama, Musdah Mulia, Perdamaian, Ruang Bersama, Talkshow, Talkshow ICRP. Menjaga Damai, Toleransi, ulil abshar abdallaJAKARTA 15/05/2026 – Di tengah riuh rendahnya ketegangan global dan masih berkecamuknya konflik kemanusiaan di Timur Tengah, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menggemakan sebuah seruan pencerahan yang menggugah. Melalui program talkshow “Ruang Bersama” yang disiarkan dari studio Podcast ICRP TV, gagasan tentang persaudaraan sejati kembali diketengahkan. Dipandu dengan hangat dan mendalam oleh pemikir Islam, Ulil Abshar Abdalla, ruang diskusi ini menghadirkan dua tokoh besar lintas iman: Uskup Agung Jakarta yang juga Dewan Kehormatan ICRP Kardinal Ignatius Suharyo, dan tokoh reformis muslimah sekaligus pendiri ICRP, Prof. Dr. Musdah Mulia.

Mengusung tema sentral “Menjaga Damai di Tengah Keberagaman”, perbincangan ini tidak sekadar mengulang narasi lawas tentang toleransi. Lebih dari itu, diskusi ini menukik pada esensi kemanusiaan yang paling murni dengan mengambil inspirasi dari peristiwa bersejarah kunjungan Paus Leo ke Aljazair.
Kardinal Suharyo membuka tabir makna di balik kunjungan tersebut dengan sebuah refleksi yang menggetarkan hati. Momen ketika Paus memasuki Masjid Agung di Aljazair dan berdoa dalam keheningan menghadap kiblat bukanlah sekadar basa-basi diplomatik, melainkan cerminan rasa hormat tulus yang melampaui batas-batas toleransi biasa. Beliau merajut makna indah ini melalui tiga simpul kata yang saling bertaut: Khalik (Pencipta), Makhluk (ciptaan), dan Akhlak (perilaku). Ketika umat manusia menyadari secara utuh dirinya sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, maka yang lahir adalah kematangan spiritual dan akhlak mulia yang memanusiakan manusia di sekitarnya.
Prof. Dr. Musdah Mulia menyambung pijakan refleksi tersebut dengan tajam dan amat relevan dengan realitas hari ini. Di tengah dunia yang disesaki berita duka dari zona perang di Timur Tengah hingga benih-benih radikalisme yang mengancam jalinan sosial, langkah Paus ke negara yang pernah dilanda trauma perang bersaudara berlatar agama itu adalah sebuah seruan simbolis yang keras: Hentikan Perang! Di era kemajuan teknologi modern yang begitu destruktif saat ini, konsep “perang yang adil” hanyalah sebuah ilusi yang tidak lagi relevan. Perang selalu membawa kesengsaraan absolut bagi kemanusiaan, sehingga satu-satunya jalan rasional untuk mewujudkan kedamaian adalah diplomasi, negosiasi, dan upaya preventif.
Namun, pertanyaannya, bagaimana nilai-nilai agung ini membumi dan dirawat di Indonesia?
Di sinilah diskursus menyoroti nafas baru dari gerakan perdamaian: Keterlibatan Generasi Muda. Meski insiden kekerasan berbasis agama dan persekusi di Tanah Air cenderung menurun dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir, peran negara tetap krusial untuk hadir memberikan perlindungan adil tanpa diskriminasi. Akan tetapi, hukum dan perlindungan negara saja tidak cukup. Para narasumber sepakat bahwa generasi mudalah sang penerus yang dituntut aktif untuk memperkuat dialog antariman dalam merespons ketidakpastian dunia.
Anak muda bukan lagi sekadar objek dakwah, melainkan subjek perubahan. Oleh karena itu, generasi muda harus didekati dengan metode yang relevan, selaras dengan denyut nadi era digital saat ini. Para tokoh agama dan pimpinan masyarakat memiliki pekerjaan rumah besar: bagaimana menceritakan sejarah dan narasi perdamaian agar terangkai inspiratif, menggunakan pendekatan dan “bahasa” kaum muda itu sendiri. Tantangannya kini ada di genggaman para remaja; bertarung membangun narasi damai untuk memecah kebisingan radikalisme di media sosial.
Mendengarkan keseluruhan perbincangan dalam “Ruang Bersama” ini https://www.youtube.com/watch?v=yGJ1rH79qts, kita tidak hanya diajak bernostalgia tentang keindahan harmoni kedekatan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral sebagai model idealisme bangsa. Kita semua—terutama para jiwa-jiwa muda—ditantang untuk bangun dan terlibat. Sebab, mewujudkan perdamaian harus berlandaskan pada prinsip keadilan; perdamaian tanpa tegaknya keadilan di masyarakat hanyalah sebuah ilusi atau halusinasi semata.
ICRP mengundang seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda yang gelisah akan masa depan yang lebih baik, untuk menyimak episode utuh dari “Ruang Bersama” ini di ICRP TV. Mari ubah inspirasi menjadi aksi, dan sadarkan diri bahwa merajut damai di tengah keberagaman bukanlah sekadar mengenang warisan masa lalu, melainkan nafas yang harus kita embuskan bersama hari ini.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program dialog dan inisiatif perdamaian ICRP, kunjungi icrponline.org. Youtube: ICRP TV dan Instagram @icrpeace
