Pengurus ICRP Dewi Kanti Sampaikan Kenangan Mendalam Untuk Ayahnya Sang ng Toleransi Nusantara
Berita
Satu tahun sudah Dewan Kehormatan ICRP Rama Pangeran Djatikusuma meninggalkan kita semua. Bertempat di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kuningan para sahabat menyampaikan testimoni.
Sebagai putri bungsu dari mendiang Rama Pangeran Djatikusuma, Dewi Kanti juga diminta menyampaikan kesaksiannya, Ia berdiri dengan rasa syukur yang mendalam atas setiap penghormatan yang diberikan kepada sang ayah oleh para sahabat, teman seperjuangan, kolega dan tamu tamu yang hadir.
Ia menyampaikan banyak pesan dari Rama ayahnya. Di tengah misteri kehidupan dan perpisahan, ia membagikan sebuah keteguhan hati agar kita tetap yakin dan percaya. Ia meyakini bahwa apa pun yang terjadi dan harus kita lewati, pada akhirnya akan bermuara pada kebaikan untuk kita semua.
Ia masih ingat, saat di latih untuk bisa menyetir mobil secara mandiri. Ia diajak mengibaratkan bahwa menyetir merupakan kerja seluruh panca indera dalam satu tujuan. Dari sana ia dilatih bertemu berbagai pihak, yang akhirnya mengenal dan mendalami apa itu advokasi hak hak warga sipil, kebebasan beragama dan berkeyakinan.
Dalam ujian hidup, sering kali kita dihadapkan pada masa-masa di mana kita tidak mengerti, mengapa Rama menugaskan saya seperti ini. Tetapi kini saya mengerti, dan kini diamanahi sebagai ketua Yayasan. Rama juga mengajarkan mengapa suatu peristiwa berat harus terjadi.
Namun, Dewi Kanti semakin mengerti dan matang dalam kepribadian, tentang apa maksud dari Rama ayahnya, bahwa apabila kita sudi melangkah dan menghadapi ujian tersebut dengan ketekunan dan ketenangan yang tulus, maka di ujung jalan sana akan menanti sebuah cahaya yang luar biasa.
Bagi Dewi Kanti, sang ayah adalah sosok yang sangat luar biasa, sebuah kebesaran yang sulit dilukiskan. Sebagai seorang putri, ia menyadari bahwa dirinya tidak mampu merangkai kata-kata yang cukup indah untuk membalut sebuah penghormatan yang paripurna. Sebab, nilai keteladanan dan cinta Rama Pangeran Djatikusuma terasa terlalu lebar, terlalu dalam, dan terlalu dasar di dalam relung batinnya. Keagungan dan jejak spiritual sang ayah melampaui susunan kata-kata apa pun yang mampu ia rangkai dan ucapkan hari itu.
Semoga kesaksian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu memeluk ketenangan, menjaga ketekunan dalam ujian, dan meyakini bahwa selalu ada cahaya kebaikan di balik setiap takdir yang tidak kita pahami, tutup Dewi.
