Satu Tahun Mengenang Dewan Kehormatan ICRP Rama Pangeran Djatikusuma
BeritaTabepun Sampurasun,

KUNINGAN, JAWA BARAT – ICRP menjadi tamu kehormatan dalam peringatan satu tahun wafatnya tokoh budayawan, pejuang toleransi, dan pemersatu kebinekaan, Rama Pangeran Djatikusuma. Yang dihadiri Dewan Pembina ICRP Amanda D. Suharnoko dan Direktur Eksekutif ICRP Ilma Sovri Yanti pada (16/05). Yang dilangsungkan dengan khidmat di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur.
Acara ini menjadi momentum reflektif yang kuat, ditandai dengan peluncuran buku rekam jejak mendiang bertajuk “Dari Gerbang Kinantar Sampai Gedung PBB”, serta penayangan dokumenter yang menggugah nurani dan merangkum pesan kemanusiaan dari keluarga besar.
Dalam kesempatan itu Ilma Sovri Yanti, beserta tokoh budaya Save Dagun, turut memberikan pandangan dan testimoni yang meneguhkan kembali komitmen ICRP dalam mengenal dan merawat warisan dialog antaragama dan keyakinan serta toleransi tanpa syarat, yang telah dirintis oleh mendiang dalam semasa hidupnya.
Dalam sebuah sesi wawancara yang dirangkum dalam peringatan ini, Ilma Sovri Yanti dan Save Dagun menyampaikan refleksi mendalam mengenai sosok Rama Pangeran. Mereka menyoroti bagaimana konsistensi Pangeran Djatikusuma dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan lokal Sunda Wiwitan telah memberikan sumbangsih nyata tidak hanya bagi komunitas adat, tetapi juga bagi rajutan harmoni kebangsaan di Indonesia bahkan dunia. Kesaksian mereka menggarisbawahi urgensi bagi generasi muda untuk tidak sekadar mengenang, melainkan mempraktikkan langsung ajaran cinta kasih dan dialog yang setara di tengah arus zaman.
Puncak dari refleksi peringatan ini bersumber dari kesaksian sang istri, Ratu Emalia Wigarningsih, beserta kedelapan putra-putrinya. Testimoni mereka merangkai memori tentang seorang sosok yang teguh mengajarkan arti ketenangan, kekuatan doa, dan kepasrahan absolut kepada Sang Pencipta. Dari kesaksian keluarga ini, muncul pertanyaan- pertanyaan fundamental yang ditujukan kepada setiap sanubari pembaca:
Rekam jejak Rama Pangeran Djatikusuma, sebagaimana tertuang dalam buku yang diluncurkan dan dicatat oleh berbagai media massa, adalah manifestasi dari pengabdian seumur hidup. Beliau gigih mempertahankan identitas budaya dan mengayomi penganut ajaran Sunda Wiwitan berdasarkan filosofi Pikukuh Tilu. Perjuangannya membela hak-hak sipil tanpa diskriminasi telah bergema dari tingkat akar rumput di Cigugur hingga forum-forum internasional seperti PBB.
Rilis ini adalah undangan terbuka untuk bersatu. Kepada para penerus Giring Pangaping Masyarakat Adat Karuhun Sunda Wiwitan, jalan telah dirintis; saatnya melanjutkan perjuangan dengan teguh. Bagi bangsa Indonesia, mari bergandengan tangan, mengambil hikmah dari kehidupan Rama Pangeran Djatikusuma, dan terus berupaya membangun negeri yang damai, setara, dan kaya akan budaya.
Mari merawat Kebinekaan. Rahayu.
