Pertanyaan Seorang Anak Korban Pembubaran Kemah Ahmadiyah yang Menggetarkan Nurani: “Kak, Bisakah Kami Tidak Membenci Polisi?”
Berita
Kuningan, Jawa Barat — Puluhan anak dan remaja Ahmadiyah tingkat SMP yang menjadi korban pembubaran paksa kegiatan kemah di Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah, mendapatkan layanan dukungan psikososial yang dipandu Tokoh Peduli Anak Indonesia, Henny Adi Hermanoe, di Manislor, Kuningan, Jawa Barat. Pendampingan tersebut dilakukan sesaat setelah para peserta dipulangkan secara paksa dari lokasi perkemahan yang sedianya menjadi ruang belajar, bermain, dan membangun persahabatan bagi anak-anak dan remaja Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
Bagi Henny, pertemuan dengan anak-anak itu menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan. “Hari itu seperti menyisakan debu-debu kekagetan dan kebingungan pasca dibubarkannya ruang gembira mereka,” tutur Henny mengenang suasana ketika anak-anak tiba di Manislor. Pagi itu, sekitar pukul 06.00 WIB, langkah-langkah kecil anak-anak turun dari bus yang membawa mereka pulang dari Solo. Sebagian masih menyimpan kebingungan, sebagian mencoba tersenyum, sementara yang lain memilih diam.
Di sebuah ruangan sederhana yang kemudian menjadi ruang pemulihan bersama, Henny mendampingi sembilan anak dalam sesi awal dukungan psikososial. Melalui permainan, percakapan santai, dan aktivitas kelompok, mereka diajak perlahan mengurai pengalaman yang datang secara tiba-tiba dalam kehidupan mereka yang masih sangat belia. “Kami berusaha melaluinya lewat canda, tawa, dan permainan sederhana. Sedikit demi sedikit mereka mulai berani bersuara dan menemukan kembali kenyamanan yang sempat direnggut,” ujarnya. Suasana yang semula penuh kehati-hatian perlahan berubah hangat. Ruangan dipenuhi sorak-sorai dan yel-yel kreatif yang diciptakan anak-anak sendiri. Mereka tertawa, bergerak bersama, dan saling menyemangati.
Salah satu yel-yel yang mereka ciptakan diakhiri dengan teriakan lantang “Zindabad!”, sebuah kata yang berarti “Merdeka”. Teriakan itu menggema memenuhi ruangan, seolah menjadi simbol bahwa semangat anak-anak tidak berhasil dipatahkan oleh peristiwa yang mereka alami. Bagi Henny, momen itu menjadi tanda bahwa anak-anak mulai menemukan kembali rasa aman dan kepercayaan diri mereka.
Namun, ketika sesi hampir berakhir dan suasana mulai terasa lebih ringan, sebuah peristiwa tak terduga justru meninggalkan kesan paling mendalam. Seorang anak yang sejak awal memilih diam di sudut ruangan tiba-tiba mengangkat tangan dan memberanikan diri berbicara. Pertanyaan yang keluar dari bibirnya sederhana, tetapi menghentikan seluruh percakapan di ruangan itu. “Kak, bisakah kami tidak membenci polisi?” Hening seketika.
Menurut Henny, pertanyaan itu bukanlah ungkapan kemarahan, melainkan suara hati seorang anak yang sedang berjuang mempertahankan kasih sayang dan kemanusiaannya di tengah pengalaman yang membingungkan. “Anak itu tidak menuntut sesuatu yang rumit. Ia hanya ingin memastikan bahwa hatinya tidak dipenuhi kebencian,” kata Henny.
Bagi pendamping psikososial yang telah lama bekerja bersama anak-anak dalam berbagai situasi krisis, pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa anak-anak sering kali memiliki kebijaksanaan yang jauh melampaui usia mereka. “Di tengah pengalaman yang menyakitkan, ia justru bertanya bagaimana agar tidak membenci. Itu adalah pelajaran besar bagi kita semua,” ujarnya.
Henny menilai proses pemulihan psikososial bagi anak-anak korban intoleransi tidak hanya bertujuan menghilangkan rasa takut, tetapi juga menjaga agar pengalaman buruk yang mereka alami tidak berubah menjadi trauma berkepanjangan ataupun melahirkan kebencian terhadap kelompok lain. Karena itu, layanan dukungan psikososial menjadi bagian penting dalam memastikan anak-anak tetap tumbuh sebagai pribadi yang sehat secara emosional, mampu memaknai pengalaman sulit dengan baik, dan tetap percaya pada nilai-nilai perdamaian.
Peristiwa pembubaran kemah anak dan remaja Ahmadiyah di Karangpandan telah memunculkan keprihatinan luas dari berbagai kalangan, terutama karena peserta kegiatan sebagian besar merupakan anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan rasa aman. Menjelang Hari Anak Nasional yang akan diperingati pada 23 Juli mendatang, Henny berharap pengalaman tersebut menjadi refleksi bersama bagi seluruh elemen bangsa. “Semoga anak-anak ini tetap bisa tertawa. Semoga mereka tetap tumbuh dengan harapan. Dan semoga suatu hari nanti mereka dapat merayakan Hari Anak Nasional dengan penuh kegembiraan bersama semua pihak, termasuk aparat yang seharusnya melindungi mereka,” tutupnya.
Di balik luka yang mereka alami, anak-anak itu mengingatkan kita pada satu hal yang paling mendasar: bahwa perdamaian sejati dimulai dari keberanian untuk menolak kebencian, bahkan ketika ada banyak alasan untuk membencinya
