Sarasehan Ekoteologi Seren Taun Cigugur: Merawat Warisan Budaya dan Menjaga Bumi untuk Generasi Mendatang
Berita
Kuningan, Jawa Barat – Komunitas adat Sunda Wiwitan menggelar Sarasehan Ekoteologi di Ruang Jinem, Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Seren Taun. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara nilai-nilai spiritual, kearifan budaya, dan refleksi sosial untuk menjawab tantangan krisis lingkungan yang semakin nyata.
Sarasehan menghadirkan berbagai tokoh masyarakat adat, akademisi, aktivis masyarakat sipil, pemuka agama, serta perwakilan pemerintah. Salah satu pembicara yang hadir adalah Vincent Jaya Saputra dari Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), yang menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi krisis ekologi dan membangun kesadaran bersama untuk menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.
Dalam sambutan pembukaan, Ketua panitia Seren Taun Dewi Kanti yang juga pengurus ICRP menegaskan bahwa Seren Taun bukan sekadar ritual tahunan atau ungkapan syukur atas hasil panen. Lebih dari itu, Seren Taun merupakan ruang refleksi yang diwariskan para leluhur untuk menjaga keberlanjutan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan spiritual masyarakat. Alam dipandang bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan ruang hidup, rumah belajar, sekaligus ruang spiritual yang harus dijaga kelestariannya.
Tema yang diangkat tahun ini, “Merawat Warisan Budaya demi Masa Depan Bangsa,” mengandung pesan bahwa warisan budaya bukanlah peninggalan masa lalu yang hanya dikenang, tetapi sumber kebijaksanaan yang relevan untuk menjawab berbagai persoalan masa kini, termasuk ancaman kerusakan lingkungan hidup.
Para pembicara menyoroti berbagai tantangan ekologis yang dihadapi Indonesia, mulai dari krisis air, kerusakan hutan, hingga meningkatnya frekuensi bencana akibat perubahan iklim. Dalam diskusi tersebut ditegaskan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya isu teknis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual yang membutuhkan tanggung jawab bersama. Negara, masyarakat adat, komunitas keagamaan, akademisi, dan warga perlu membangun kerja sama yang kuat untuk memastikan hak setiap warga negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Pengurus ICRP Vincent Jaya Saputra menekankan bahwa pendekatan ekoteologi perlu mendorong lahirnya kesadaran baru bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan dan keimanan.
Menurutnya, berbagai tradisi keagamaan dan kearifan lokal memiliki nilai-nilai yang dapat menjadi landasan etis dalam menjaga bumi dan memperkuat solidaritas sosial di tengah krisis ekologis. Gagasan tersebut sejalan dengan semangat dialog lintas iman yang selama ini dikembangkan ICRP untuk membangun perdamaian sekaligus merawat kehidupan bersama.
Diskusi juga menghasilkan seruan untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam penyusunan kebijakan lingkungan, melindungi sumber-sumber mata air, menjaga kawasan hutan, serta mengembangkan model pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Para peserta sepakat bahwa pelestarian alam harus dilakukan secara kontekstual sesuai karakteristik setiap daerah dengan melibatkan masyarakat sebagai subjek utama.
Sebagai bagian dari komitmen nyata menjaga bumi, dalam rangkaian Seren Taun juga disuarakan dukungan terhadap gerakan penanaman pohon sebagai upaya mitigasi bencana dan pemulihan ekosistem. Langkah tersebut diharapkan menjadi investasi jangka panjang untuk mewariskan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi generasi mendatang. Melalui Sarasehan Ekoteologi ini, Seren Taun kembali menunjukkan perannya sebagai ruang dialog yang mempertemukan tradisi, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Kearifan masyarakat adat Sunda Wiwitan yang diwariskan turun-temurun menjadi inspirasi penting dalam membangun kesadaran kolektif untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.
