Lompat ke Konten Utama
Berita

IPI Hadirkan 59 Anak Muda Dalam Gen-Next Batik Bhinneka Tunggal Ika Menjaga Warisan Nusantara di Antara Heritage Center, Jakarta

#MenorehJatiDiriBangsa

JAKARTA, 18 Mei 2026 – Sehelai kain batik bukan sekadar bentangan kain mori yang digambar dengan malam dan diwarnai. Di setiap titik dan garisnya, mengalir detak jantung peradaban, doa-doa leluhur, serta rajutan kisah tentang Nusantara yang kaya akan perbedaan namun tetap satu dalam menonggakkan kaki kaki peradaban bangsa.

Mengangkat pesona yang menghipnotis ini, pameran karya 59 anak muda dari Batang, Magelang dan Jambi di selenggarakan, beserta bincang budaya yang bertajuk “Mozaik Indonesia: Gen-Next Batik Bhinneka Tunggal Ika untuk Regenerasi Budaya dan Kolaborasi Kreatif” atas karya 25 tahun Institut Pluralisme di Indonesia (IPI) di Wisma Antara Heritage Center, dengan di dukung Kementerian Dalam Negeri, Ford Foundation, Kirin, Garuda Food, ANTARA dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) di Jakarta, pada Senin (18/5/2026).

Dalam suasana yang akrab dan hangat di beranda Wisma Antara, acara ini sanggup menyihir para pengunjung dan menyulap ruang pameran menjadi sebuah kapsul waktu emosional—membawa siapa pun yang hadir menyatu dalam keagungan cerita di balik setiap motif batik yang di jelaskan oleh peneliti batik kenamaan Indonesia William Kwan. Dirinya dalam pameran kali ini membawa 59 siswa dari 23 Sekolah di 3 daerah dampingan, Propinsi Jawa Tengah, yaitu di daerah Batang dan Magelang serta Propinsi Jambi.

Turut hadir dalam perhelatan sarat makna ini sejumlah tokoh penting, di antaranya Dewan Pembina ICRP Amanda Suharnoko, Bendahara Umum ICRP Vincent Jaya Saputra, Pimpinan Majelis Buddhayana Indonesia Sutta Vijaya Henry Gunawan Chandra, Wakil Ketua Dharma Wanita Kemendagri Ida Mahendra, Sesdirjen Kemendagri Andi Baso Indra Paharuddin, Direktur Utama Antara Benny Siga Butar Butar, Direktur Regional Ford Foundation Diah Dwiandani serta berbagai pihak yang ikut mendukung dan menjadi saksi perjalanan panjang IPI dalam membangunkan kembali batik batik di Indonesia yang hampir punah.

Di daulat memberikan sambutan pertama, pendiri IPI dan peneliti batik kenamaan Indonesia *William Kwan*, yang juga menjabat sebagai Dewan Pengawas ICRP, menggarisbawahi bahwa batik adalah cermin paling jujur dari ke-Indonesia-an. “Batik Bhinneka Tunggal Ika adalah medium perekat jiwa. Di setiap tarikan cantingnya, tergambar keberagaman yang melebur dalam harmoni. Ini adalah warisan yang harus kita teruskan ke generasi muda, bukan sekadar sebagai pakaian, melainkan sebagai ruh kebangsaan kita,” tegasnya.

William berharap, melalui perhelatan Mozaik Indonesia: Gen-Next Batik Bhinneka Tunggal Ika, IPI bersama ICRP dan seluruh kolaborator berharap benang-benang warisan Nusantara tidak pernah terputus. Batik bukanlah narasi usang dari masa lalu, melainkan kompas yang akan menuntun generasi masa depan menuju kebanggaan dan persatuan sejati yang berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika.

Direktur ICRP *Ilma Sovri Yanti* menyatakan, dirinya sejak awal sangat mendukung perjalanan lembaga Institut Pluralisme Indonesia (IPI), yang kini telah berumur 25 tahun. ICRP bersama IPI telah membuktikan komitmen panjang dalam bersama sama merawat jalinan keberagaman yang paling indah, melalui dialog karya dan pendekatan budaya. Untuk itulah ICRP ikut mendukung dan menjadi bagian panitia dalam penyelenggaraan pameran ini.

Bagi Ilma, sahabatnya William telah mengangkat kembali batik batik yang hampir punah di Indonesia, mungkin dengan segala keterbatasannya, tapi saya sangat yakin dengan karya 25 tahun ini, mampu membuka mata kita semua, saya yakin kalau beliau di beri kesempatan lebih luas lagi, maka akan lebih banyak lagi yang merasakan manfaatnya. Harusnya kita semua mampu menangkap ini. Bahkan tidak hanya itu, William telah menyiapkan generasinya juga. Beliau ingin pluralisme, keberagaman, ke-madani-an menjadi dialog karya anak anak generasi muda melalui batik, yang dapat mendekatkan dan mempertemukan antar generasi. Baginya, kiprah IPI selama 25 tahun telah semakin nampak di Indonesia, mengangkat kembali warisan budaya luhur nan agung, yaitu Batik.

*Ancaman Kehilangan Jati Diri dan Panggilan untuk Gen-Next*

Dewan Pembina ICRP *Amanda D. Suharnoko* menyampaikan, William telah memberikan pemantik semangat agar anak muda berani berkreasi tanpa batas, ”Ditangan IPI, Batik adalah kanvas terbuka, dengan menginspirasi 59 teman-teman muda yang menampilkan pamerannya hari ini. IPI mengajak siapapun anak muda mampu membuktikan, dapat berkarya dengan batik, bahkan melalui berbagai media yang kalian kuasai!

Saya kira dengan pameran Gen Next Batik Indonesia yang di hadirkan IPI dari Jambi, Batang dan Magelang akan mampu menyihir anak muda lainnya. Saya berharap pameran ini, tidak hanya di disini, tapi lebih banyak lagi, agar bisa dirasakan semua anak muda dimanapun berada. Saya kira atsmosfer hari ini, harus terbawa ke anak muda lainnya. Mari menjadikan batik sebagai ruang untuk menyuarakan kreativitas dan keberagaman generasi kalian. Kalau bukan kalian yang menjaga dan menghidupkan warisan ini, lantas siapa lagi?”, semangat Amanda.

*Sekarang Estafet Batik, Ada Di Tangan Gen Next Batik Indonesia*

Tantangan terbesar pelestarian batik saat ini berada di pundak para pewarisnya, yakni Gen-Next (generasi muda) Indonesia. Pengurus ICRP, *Henry Gunawan Chandra*, merefleksikan kedalaman makna filosofis di balik urgensi regenerasi ini. “Batik adalah bahasa tanpa kata yang menceritakan identitas kita. Jika nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam selembar batik ini tidak diteruskan, kita tidak hanya kehilangan sebuah mahakarya seni, tetapi kita akan kehilangan jati diri bangsa, bahkan kita kehilangan generasi muda kita. Ini adalah ancaman nyata bagi generasi muda yang rentan kehilangan akar budayanya di tengah derasnya arus globalisasi,” ungkap Henry.

Untuk menjawab kegelisahan tersebut, Bendahara Umum ICRP, *Vincent Jaya Saputra*, menekankan pentingnya membangun jembatan relevansi antara tradisi dan tren masa kini. “Generasi muda tidak boleh hanya diposisikan sebagai konsumen; mereka adalah penerus takhta kreativitas ini. Pesan pelestarian ini harus disampaikan dengan cara yang menarik, memanfaatkan medium digital, inovasi fashion, dan teknologi. Dengan begitu, anak muda akan bangga mengekspresikan diri mereka melalui batik. Dirinya yang telah lama hidup di Amerika, melihat langsung karya karya batik Indonesia di handbook, monetize boneka, diversifikasi berbagai produk digital, hotel dan wisata. Baginya ini peluang besar bagi kaum muda Indonesia untuk terus berani berkarya, menorehkan batik di berbagai kemasan produk, tegasnya. Pameran pameran karya anak muda yang di selenggarakan IPI, harus lebih banyak lagi ada, agar dunia tahu karya anak anak Indonesia.”

FAF

Tim Redaksi ICRP Indonesia — Indonesian Conference on Religion and Peace.
Menyuarakan perdamaian, toleransi, dan dialog lintas iman untuk Indonesia yang lebih harmonis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *