ICRP TV Jadikan Hari Anak Nasional Ruang Mendengar Suara Generasi Muda tentang Bullying, Dunia Digital, dan Pentingnya Merayakan Keberagaman
Saksikan selengkapnya di Podcast ICRP TV di https://www.youtube.com/watch?v=kRcULme3eM0
Suara Anak – Suara Masa Depan, Henny Hermanoe (Tokoh Peduli Anak Indonesia)
Jakarta, 23 Juli 2026 – Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 di Studio ICRP TV berlangsung dengan suasana yang berbeda. Tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan tokoh perlindungan anak, aktivis lintas iman, dan generasi muda untuk membicarakan satu hal yang sering terlupakan: mendengarkan suara anak.
Mengangkat tema “Suara Anak, Suara Masa Depan”, diskusi tersebut menjadi ruang refleksi bahwa Hari Anak Nasional bukan hanya tentang merayakan anak, tetapi mengingatkan seluruh elemen bangsa agar memenuhi hak-hak anak sekaligus menjawab tantangan baru yang dihadapi generasi muda di era digital.
Tokoh Peduli Anak Indonesia Henny Hermanoe menegaskan bahwa Hari Anak Nasional harus menjadi momentum evaluasi bersama, bukan sekadar agenda seremonial.
“Hari Anak Nasional adalah pengingat bahwa negara, keluarga, sekolah, masyarakat, media, dan orang tua memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan setiap anak dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan didengar pendapatnya. Anak bukan sekadar penerus bangsa, tetapi manusia yang hak-haknya harus dipenuhi sejak hari ini.”
Henny mengingatkan bahwa masih banyak anak Indonesia yang bahkan belum memperoleh hak paling mendasar, seperti kepemilikan akta kelahiran, yang menjadi pintu masuk memperoleh pendidikan, perlindungan, dan pelayanan publik.
Ia juga mengingatkan bahwa ruang aman anak semakin menyempit.
“Dulu rumah dan sekolah menjadi ruang aman. Hari ini kita justru melihat banyak anak mengalami kekerasan di rumah, perundungan di sekolah, hingga menjadi korban di ruang digital. Hari Anak Nasional harus menjadi momentum refleksi agar semua pihak benar-benar menghadirkan lingkungan yang aman bagi anak.”
Menurutnya, perlindungan anak tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah.
“Orang tua adalah garda terdepan, tetapi negara, pemerintah daerah, masyarakat, media, sekolah, dan keluarga memiliki tanggung jawab yang sama. Perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif.”
Sementara itu, Ilma Sovri Yanti, Direktur ICRP, menegaskan bahwa ICRP memandang keberagaman sebagai nilai yang harus diperkenalkan kepada anak sejak usia dini.
Menurut Ilma, anak-anak tidak perlu dibebani istilah-istilah besar seperti toleransi. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan pengalaman hidup bersama dalam keberagaman.
“Anak-anak belajar menerima perbedaan bukan melalui teori, tetapi melalui pengalaman bertemu, bermain, berteman, dan saling menghargai. Keberagaman bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi kekayaan yang membuat kita menjadi manusia yang lebih utuh.”
Ia menambahkan bahwa ICRP selama lebih dari dua dekade membangun ruang perjumpaan lintas agama dan keyakinan karena percaya bahwa perdamaian harus mulai ditanamkan sejak anak-anak.
“Kami berharap Hari Anak Nasional tidak berhenti sebagai retorika tahunan, tetapi menjadi aksi nyata yang membuka akses, kesempatan, pelayanan, dan ruang partisipasi bagi setiap anak Indonesia.”
Yang paling menarik justru datang dari anak-anak dan generasi muda yang hadir di studio.
Filia menyampaikan bahwa banyak anak seusianya sebenarnya membutuhkan pengakuan bahwa mereka dihargai.
“Hari Anak membuat anak merasa bahwa dirinya penting, diperhatikan, dan dicintai. Itu memberi semangat bahwa masa depan juga milik mereka.”
Pangeran mengaku sebelumnya menganggap Hari Anak hanya identik dengan pesta dan hadiah. Namun setelah mengikuti diskusi, ia menyadari bahwa banyak anak yang belum memperoleh perhatian dan kesempatan yang sama.
“Hari Anak perlu dirayakan, karena masih banyak anak yang belum seberuntung kita. Mereka membutuhkan perhatian sosial dan kesempatan yang sama.”
Vashti mengingatkan bahwa anak-anak membutuhkan ruang untuk menyampaikan perasaan.
“Anak juga punya cerita. Anak perlu ditanya bagaimana perasaannya, apakah mereka baik-baik saja. Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh keterbukaan dan perhatian dari orang dewasa.”
Nadine menilai Hari Anak Nasional harus menjadi alat ukur, bukan sekadar perayaan.
“Hari Anak adalah pengingat untuk bertanya, apakah hak-hak anak sudah benar-benar dipenuhi? Pendidikan, perlindungan, dan kesempatan adalah hak dasar setiap anak.”
Sementara Daniel menyoroti pentingnya melibatkan anak dalam setiap kebijakan.
“Anak jangan hanya dijadikan objek. Anak harus menjadi subjek yang didengar kebutuhannya. Orang tua juga perlu membangun kolaborasi dengan anak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.”
Sedangkan Finley mengungkapkan kegelisahannya terhadap kondisi generasi muda saat ini.
Menurutnya, media sosial membuat anak terbiasa menghindari perbedaan hanya dengan menggeser layar. Akibatnya, banyak anak kehilangan kemampuan berdialog dengan orang yang berbeda pandangan.
Finley juga mengingatkan pentingnya kesiapan orang tua dalam membangun keluarga.
“Pengasuhan yang baik jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi. Anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, pendidikan yang baik, dan lingkungan yang sehat agar tidak mencari pelarian ke ruang digital.”
Sepanjang diskusi, para peserta juga menyoroti berbagai persoalan yang menjadi wajah baru tantangan anak Indonesia, antara lain:
- meningkatnya bullying dan cyberbullying;
- ruang aman anak yang semakin menyempit;
- tekanan media sosial terhadap kesehatan mental;
- minimnya perhatian emosional dari keluarga;
- anak lebih banyak mencari identitas di dunia digital;
- pentingnya literasi digital agar anak terhindar dari grooming dan eksploitasi daring;
- perlunya melibatkan anak dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan mereka.
Melalui peringatan Hari Anak Nasional ini, ICRP TV menegaskan komitmennya sebagai Media Referensi Kebhinekaan, yang tidak hanya menyuarakan pentingnya hidup dalam keberagaman, tetapi juga menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk didengar.
Karena masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang dibuat orang dewasa, tetapi juga oleh sejauh mana bangsa ini bersedia mendengar suara anak-anaknya hari ini.
#MediaReferensiKebhinekaan
#SuaraAnakSuaraMasaDepan
#HariAnakNasional2026
#ICRPTV
#MerawatKeberagaman
#HakAnak
#AnakIndonesia