Lompat ke Konten Utama
Berita

Ketua Umum ICRP Prof. Dr. Abdul Mu’ti Resmikan Studio ICRP TV, Ruang Digital Baru untuk Merawat Keberagaman dan Mewariskan Peradaban

Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed menggunting pita, tanda diresmikannya Studio ICRP TV, dengan didampingi (dari kanan ke kiri tampak di foto) Prof. Dr. Chandra Setiawan, MM, PhD., Dewi Kanti, Budi Santoso Tanuwibowo, Michael Utama Purnama, Pdt. Gomar Gultom, Prof. Dr. Musdah Mulia

Saksikan selengkapnya di ICRP TV https://www.youtube.com/watch?v=zYOaJXSqCNE&t=423s

Jakarta, 28 Juli 2026 – Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menandai tonggak sejarah baru dalam perjalanan pengabdiannya kepada bangsa dengan meluncurkan Studio ICRP TV, yang diresmikan langsung oleh Ketua Umum ICRP yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. Peluncuran tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan 26 Tahun ICRP yang mengusung tema “Merawat Keberagaman, Mewariskan Peradaban.”

Peresmian studio ditandai dengan pemutaran video profil, pemotongan pita, penandatanganan prasasti, serta dilanjutkan dengan siaran langsung perdana (live streaming) ICRP TV melalui dialog bersama Ketua Umum ICRP Prof. Abdul Mu’ti, Dewan Pendiri ICRP Prof. Dr. Siti Musdah Mulia dan Prof, Dr, Chandra Setiawan, MM., PhD. dan Ibu Dewi Kanti dari Sunda Wiwitan.

Momentum ini menjadi babak baru transformasi ICRP dalam memanfaatkan ruang digital sebagai media penyebaran nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan.

Dalam sambutannya, Prof. Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pada usia ke-26, ICRP telah memasuki fase kematangan sebagai organisasi lintas iman yang terus konsisten merawat kerukunan di Indonesia. “Usia 26 tahun adalah usia kedewasaan. Saya melihat ICRP menjadi salah satu organisasi lintas iman yang tetap eksis, terus memberi manfaat dalam merajut kerukunan, membangun budaya damai, dan menebarkan benih-benih perdamaian lintas generasi,” ujarnya.

Menurutnya, keberagaman merupakan DNA bangsa Indonesia sekaligus modal sosial yang harus terus dirawat melalui ruang-ruang perjumpaan dan kolaborasi. “Kerukunan bukan sekadar dipertahankan, tetapi harus terus diperkuat menjadi kekuatan bangsa. Perbedaan agama, budaya, bahasa, dan keyakinan bukan penghalang, melainkan fondasi Indonesia untuk maju,” tegasnya.

Peluncuran ICRP TV menjadi langkah strategis organisasi untuk menghadirkan ruang publik digital yang memproduksi dan menyebarluaskan narasi positif mengenai keberagaman, moderasi, dialog lintas agama, serta praktik-praktik baik kehidupan bersama di Indonesia. Kehadiran platform ini diharapkan mampu menjangkau generasi muda yang semakin akrab dengan media digital, sekaligus menjadi rumah bersama bagi berbagai gagasan tentang perdamaian dan kemanusiaan.

Dalam dialog perdana ICRP TV, Prof. Abdul Mu’ti juga menegaskan bahwa semangat ICRP selaras dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, terutama dalam membangun pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

Menurutnya, sekolah harus menjadi meeting point sekaligus melting point, tempat anak-anak Indonesia belajar mengenal perbedaan, membangun persahabatan, dan mengembangkan karakter kebangsaan sejak dini. Prinsip tersebut diwujudkan melalui kebijakan Pendidikan Bermutu untuk Semua dan penguatan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, khususnya nilai learning to live together atau belajar hidup bersama dalam keberagaman.

Lebih jauh, pemerintah juga memperkuat akses pendidikan bagi anak-anak yang belum terjangkau pendidikan formal melalui pembentukan Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal, sebagai bentuk komitmen menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif bagi sekitar 4,2 juta anak Indonesia yang putus sekolah maupun belum pernah bersekolah. Berbagai model layanan seperti pendidikan kesetaraan, pembelajaran jarak jauh, sekolah satu atap, homeschooling, sekolah terbuka, hingga komunitas belajar dikembangkan agar tidak ada satu pun anak Indonesia yang kehilangan hak memperoleh pendidikan.

Sementara itu, Dewan Pendiri ICRP, Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, mengingatkan bahwa sejak didirikan pada tahun 2000 oleh tokoh-tokoh seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Dr. Djohan Effendi, dan para pemimpin lintas agama lainnya, ICRP hadir sebagai House of Peace atau Rumah Perdamaian yang memperjuangkan kebebasan beragama, kesetaraan hak sipil, serta perlindungan bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi.

Peluncuran Studio ICRP TV menjadi simbol bahwa perjuangan merawat keberagaman kini memasuki babak baru. Jika selama ini ICRP dikenal sebagai ruang dialog lintas iman di dunia nyata, maka kini ICRP memperluas ruang perjumpaan tersebut ke dunia digital.

Melalui ICRP TV, organisasi berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, memperoleh inspirasi tentang toleransi, persaudaraan, pendidikan karakter, kebudayaan, dan nilai-nilai kemanusiaan universal sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Sejalan dengan tema HUT ke-26, peluncuran ICRP TV menegaskan komitmen ICRP untuk terus bergerak “Dari Kerukunan Menuju Keunggulan Bangsa”, menjadikan keberagaman bukan sekadar identitas, melainkan energi kolektif dalam membangun peradaban Indonesia yang damai, adil, inklusif, dan bermartabat.

Dewan Pendiri ICRP Prof. Dr. Chandra Setiawan, MM., PhD., kembali mengingatkan bahwa budaya damai yang dibawa ICRP tidak lahir secara instan. Budaya tersebut harus terus disemai melalui pendidikan, dialog, kerja sama, dan keteladanan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Karena itu, tema “Merawat Keberagaman, Mewariskan Peradaban” dinilai sangat relevan dengan perjalanan ICRP yang selama 26 tahun konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Ia juga menekankan bahwa ICRP memiliki tanggung jawab moral untuk terus membangun jembatan persaudaraan di tengah berbagai tantangan kehidupan berbangsa. Organisasi ini, menurutnya, harus tetap menjadi rumah bersama yang menghadirkan harapan, memperkuat solidaritas, dan mengembangkan budaya damai sebagai fondasi Indonesia yang rukun, adil, dan bermartabat.

Dipandu oleh moderator Dewi Kanti, siaran perdana ICRP TV dibuka dengan penegasan bahwa kehadiran platform digital tersebut menjadi ikhtiar baru ICRP untuk memperluas ruang dialog dan menyebarkan nilai-nilai perdamaian kepada masyarakat Indonesia.

Dalam menutup diskusi, ia menegaskan kembali bahwa kemerdekaan sejati, kemerdekaan yang sebentar lagi akan kita songsong pada 17 Agustus 2026 ini, tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga menghadirkan rasa aman, keadilan, serta kesempatan yang setara bagi setiap warga negara tanpa membedakan suku, agama, kepercayaan, maupun latar belakang sosial.

 

FAF

Tim Redaksi ICRP Indonesia — Indonesian Conference on Religion and Peace.
Menyuarakan perdamaian, toleransi, dan dialog lintas iman untuk Indonesia yang lebih harmonis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *